Bandung – Kementerian Perindustrian (KEMENPERIN) bekerja sama dengan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Produktivitas Sektor Mold and Dies. Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara KEMENPERIN bersama dengan FTMD ITB dengan Korea Institute of Advancement of Technology (KIAT) melalui proyek Machine Tools Industry Development Center (MTIDC). Kegiatan ini berlangsung dari 30 September hingga 4 Oktober 2024, bertempat di FTMD ITB, dengan tujuan meningkatkan rantai pasokan global dalam industri mesin perkakas di Indonesia. 

Proyek MTIDC yang merupakan hasil kerja sama dengan Korea Selatan bertujuan untuk memperkuat kemampuan industri Indonesia dalam bidang mesin perkakas. Sebagai bagian dari kerja sama ini, pemerintah Korea menghibahkan 36 mesin bubut manual NARA kepada pemerintah Indonesia melalui FTMD. Kemudian, hibah tersebut akan dibagikan ke berbagai institusi pendidikan, balai industri di bawah KEMENPERIN, serta sejumlah industri di Indonesia. Selain mendapatkan hibah mesin, penerima diminta untuk mengirimkan perwakilan ke MTIDC ITB, yang kini berfungsi di bawah Pusat RIEM2TB FTMD ITB, guna mengikuti pelatihan terkait perakitan mesin bubut, pengujian mesin perkakas, dan konsep manufaktur presisi. 

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP), Bapak Yan Sibarang Tandiele, dalam sambutannya saat membuka acara ini, menyampaikan bahwa pelatihan ini adalah wujud nyata upaya KEMENPERIN dalam mendorong penguasaan teknologi manufaktur, khususnya mesin perkakas. “Kami berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensi industri lokal dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, sehingga memperkuat ekonomi nasional,” ungkapnya. 

Tujuan tersebut selaras dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Indonesia seharusnya mampu memanfaatkan sumber daya tersebut menjadi bahan baku yang berharga. Namun, untuk mencapai cita-cita tersebut, diperlukan penguasaan teknologi yang lebih mendalam agar ketergantungan pada bahan baku impor dapat berkurang. Dengan demikian, perekonomian Indonesia dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada bahan baku impor, sehingga meningkatkan kemandirian industri nasional. 

Bapak Satrio Wicaksono, PhD, Kepala Pusat RIEM2TB FTMD ITB, dalam sambutannya menyatakan bahwa FTMD ITB siap menjadi mitra strategis KEMENPERIN dalam mewujudkan kemandirian industri manufaktur di Indonesia. “Kami berharap lebih banyak kolaborasi di masa depan yang dapat memperkuat kemampuan industri Indonesia, khususnya dalam bidang manufaktur presisi,” ujar beliau. 

Sebelumnya, 10 mesin bubut telah didistribusikan dan digunakan oleh institusi yang telah menyelesaikan pelatihan pada batch pertama dan kedua, yang diadakan pada akhir Desember 2022 dan Mei 2023. Pelatihan pada batch ketiga ini akan melibatkan 20 peserta dari 10 institusi yang berbeda, melanjutkan komitmen dalam meningkatkan keterampilan di bidang manufaktur. Pelatihan batch ketiga ini akan diikuti oleh batch keempat dan kelima yang direncanakan berlangsung hingga awal November 2024. 

Para peserta dalam pelatihan ini berasal dari berbagai institusi pendidikan dan balai industri, seperti Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BBSPJI), Politeknik Petrokimia Banten, dan beberapa SMK Teknologi. Pelatihan ini dipandu oleh dosen-dosen ahli dari FTMD ITB, termasuk Dr. Ir. Agung Wibowo, MT., Vani Virdyawan ST, MT, PhD, dan Dr. Ir. Tri Prakosa, M.Eng., serta teknisi yang telah dilatih oleh Korea untuk memperdalam pemahaman peserta mengenai proses perakitan mesin bubut dan teknologi manufaktur presisi. 

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan penerima mesin bubut manual tidak hanya mampu mengoperasikan mesin tetapi juga memahami proses manufaktur komponen presisi. Langkah ini menjadi awal penting untuk memperkuat industri mesin perkakas lokal dan mendorong Indonesia menuju kemandirian dalam memproduksi mesin-mesin berkualitas tinggi di masa depan.