Bandung – Idrissa Abalhassan Jaha, mahasiswa internasional asal Tanzania yang tengah menempuh Program Doktor Teknik Mesin di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB), membagikan kisah perjalanannya dalam mengembangkan riset energi panas bumi di Indonesia. Berada di bawah Program Studi Teknik Mesin, Idrissa menyebut pengalamannya di ITB sebagai salah satu fase paling bertransformasi dalam hidupnya.

Sejak awal, Idrissa merasakan atmosfer akademik ITB yang progresif dan penuh semangat. Ia disambut oleh para dosen, peneliti, serta rekan mahasiswa yang tak hanya kompeten, tetapi juga suportif. “Saya langsung merasa diterima dan terinspirasi untuk terus berkembang,” ujarnya.

Fokus penelitiannya berada pada optimasi termo-ekonomis desain pembangkit listrik tenaga panas bumi. Studi ini menggabungkan pemodelan reservoir, rekayasa pembangkit, hingga analisis ekonomi, sebuah pendekatan multidisipliner yang melibatkan kolaborasi lintas departemen antara Teknik Mesin dan Teknik Geotermal ITB.

Idrissa menegaskan bahwa salah satu daya tarik terbesar ITB adalah jejaring risetnya yang kuat. “Berkat jaringan penelitian ITB yang luas dan solid, saya berkesempatan mengakses data lapangan dari PLN. Hal ini sangat meningkatkan nilai praktis dan kedalaman penelitian saya,” jelasnya.

Selain tantangan akademik, perjalanan sebagai mahasiswa doktoral juga membentuk ketangguhan diri. Idrissa mengaku belajar banyak tentang kesabaran, kerja keras, dan pentingnya kolaborasi. Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) yang disediakan oleh pemerintah Indonesia menjadi pendorong penting dalam mewujudkan perjalanan studinya di Indonesia.

Di luar studi, Kota Bandung memberikan pengalaman yang hangat. Baginya, budaya yang kaya, keramahan masyarakat, serta suasana kota yang nyaman menjadikan Bandung seperti rumah kedua.

“Perjalanan saya di ITB bukan sekadar mengejar gelar, tetapi juga tentang pertumbuhan pribadi, penemuan baru, dan memperluas cakrawala,” tutupnya.