Mahasiswa FTMD ITB Raih Medali Perunggu pada Asian Physics Olympiad APhO 2025
Bandung – Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevancea Ikea Djunaedi, berhasil meraih medali perunggu pada ajang Asian Physics Olympiad (APhO) 2025. Prestasi ini menjadi pencapaian membanggakan sekaligus menunjukkan kemampuan generasi muda Indonesia dalam bersaing di tingkat internasional.
Kevancea, mahasiswa angkatan 2025 Program Studi Teknik Mesin FTMD ITB, merupakan lulusan SMAK 1 Penabur Bandung. Sebelum mengikuti APhO 2025, ia telah menorehkan prestasi dengan meraih medali emas pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2024 bidang Fisika.
Perjalanan menuju APhO 2025 dimulai setelah keberhasilannya di OSN. Prestasi tersebut membawanya terpilih mengikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas) sebagai bagian dari proses seleksi tim Indonesia untuk APhO. Selama kurang lebih enam bulan, Kevancea mengikuti serangkaian pembinaan intensif dan tiga tahap seleksi sebelum akhirnya terpilih mewakili Indonesia pada kompetisi tingkat Asia tersebut.
Selama masa persiapan, Kevancea mengikuti berbagai pembinaan yang dibimbing oleh dosen dan pengajar berpengalaman. Kegiatan tersebut berlangsung hampir setiap hari, mulai dari pagi hingga sore, dengan fokus pada pendalaman konsep fisika serta latihan penyelesaian berbagai permasalahan yang kompleks.
Menurutnya, pengalaman belajar selama satu tahun untuk mempersiapkan OSN menjadi bekal yang sangat membantu dalam menghadapi materi APhO yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Ia juga mengakui bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada proses belajar, melainkan pada kemampuan mengelola tekanan saat kompetisi berlangsung.
“Tantangan terbesar justru ketika menghadapi tekanan saat bertanding. Melihat peserta-peserta hebat dari berbagai negara kadang membuat kita merasa minder. Karena itu, mental yang kuat sangat penting untuk menjaga fokus dan kestabilan pikiran,” ungkapnya.
Mengikuti kompetisi internasional untuk pertama kalinya menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi Kevancea. Selain berkompetisi, ia juga berkesempatan bertemu dan berdiskusi dengan peserta dari berbagai negara yang memiliki latar belakang dan kemampuan luar biasa di bidang fisika.
Baginya, kesempatan untuk belajar langsung dari peserta-peserta terbaik dunia merupakan pengalaman yang sangat berharga. Ia mengaku banyak memperoleh wawasan baru, baik dari sisi akademik maupun cara berpikir dalam memecahkan masalah.
Menurut Kevancea, salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam proses belajar adalah niat dan kegigihan. Ia percaya bahwa kemajuan tidak selalu harus datang dalam lompatan besar, melainkan melalui proses belajar yang konsisten dan berkelanjutan. Baginya, pengalaman berkompetisi di tingkat internasional serta kesempatan untuk belajar dari peserta-peserta terbaik dunia menjadi pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar medali yang diraih.
Sebagai penutup, Kevancea membagikan pesan kepada mahasiswa FTMD ITB yang ingin mengikuti kompetisi internasional. Ia mengajak mahasiswa untuk berani memulai dari langkah-langkah kecil dan terus mengembangkan diri secara konsisten.
“Kalian bisa start dari hal kecil dan improve setiap hari. 1% improvement in a day makes you 37 times better in a year,” pesannya.
Prestasi yang diraih Kevancea menunjukkan bahwa kerja keras, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar dapat membuka peluang untuk bersaing di tingkat internasional. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa FTMD ITB untuk terus mengembangkan potensi diri dan berani mengambil tantangan di berbagai kompetisi global.