Menembus Zona Batial: Inovasi BASSCAM Hasil Kolaborasi Lintas Disiplin Mahasiswa FTMD ITB untuk Kemandirian Teknologi Laut Dalam
BANDUNG, ftmd.itb.ac.id – Di balik pengembangan sebuah teknologi, selalu ada persoalan nyata yang ingin diselesaikan. Hal itulah yang menjadi titik awal lahirnya BASSCAM (Bathyal Area Scouting Subsea Camera), sebuah alat pemetaan visual bawah laut berbiaya terjangkau yang dikembangkan melalui kolaborasi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB.
BASSCAM hadir sebagai solusi atas kebutuhan dokumentasi visual dasar laut yang selama ini masih menjadi tantangan dalam riset kelautan Indonesia. Proyek ini tidak hanya menjadi bukti kemampuan mahasiswa FTMD dalam menerapkan ilmu rekayasa ke dalam permasalahan nyata, tetapi juga menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menghasilkan inovasi yang berdampak.
Berawal dari Kebuntuan Riset di Utara Bali
Ide pengembangan BASSCAM berawal dari penelitian geologi kelautan yang dilakukan untuk mengidentifikasi jejak Sesar Flores di perairan utara Pulau Bali. Dalam penelitian tersebut, peneliti membutuhkan bukti visual untuk memvalidasi hasil pemetaan dasar laut yang diperoleh menggunakan teknologi sonar.
Selama ini, eksplorasi laut dalam sangat bergantung pada teknologi sonar impor. Meskipun mampu menghasilkan data topografi atau morfologi dasar laut, teknologi tersebut belum dapat memberikan gambaran visual kondisi sebenarnya di bawah laut. Di sisi lain, penggunaan Remotely Operated Vehicle (ROV) impor untuk memperoleh dokumentasi visual membutuhkan biaya yang sangat tinggi, bahkan dapat mencapai miliaran rupiah per hari.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya tantangan rekayasa lintas disiplin untuk mengembangkan wahana bawah laut yang mampu memberikan dokumentasi visual secara langsung, mudah dioperasikan, memiliki ketahanan terhadap tekanan hidrostatis hingga ratusan meter, serta tetap ekonomis.
“BASSCAM dikembangkan sebagai solusi produk dalam negeri yang jauh lebih terjangkau namun tetap tangguh untuk melakukan pengamatan visual langsung di zona batial (laut dalam),” ujar Gravin Hotasi Zakharia, mahasiswa Teknik Mesin FTMD ITB yang bertanggung jawab pada sistem elektrikal dan integrasi sistem BASSCAM.
Kolaborasi Lintas Disiplin Menjadi Kunci Pengembangan
Pengembangan BASSCAM melibatkan dosen, mahasiswa, serta pengguna (user) dari disiplin ilmu yang berbeda sehingga setiap tahapan pengembangan benar-benar berangkat dari kebutuhan lapangan.
Proyek ini dipimpin oleh Gabriella Alodia, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen Teknik Geodesi ITB, sebagai pencetus ide, pemimpin proyek, sekaligus dosen pembimbing. Beliau melakukan survei awal mengenai kebutuhan pengembangan teknologi dokumentasi visual bawah laut di Indonesia, merumuskan use case BASSCAM, serta mengelola keseluruhan proyek mulai dari penyusunan timeline, pengendalian progres, kerja sama dengan mitra, manajemen pendanaan, hingga pengurusan hak paten invensi.
Sebagai pengguna utama (main user), Anggraini Rizkita Puji, mahasiswa Program Doktor Teknik Geologi ITB, memberikan studi kasus dan kebutuhan riil di lapangan. BASSCAM digunakan untuk mendukung penelitiannya dalam mengamati jalur sesar gempa bawah laut di wilayah Pulau Bali.
Sementara itu, dari FTMD ITB, Prof. Ir. Andi Isra Mahyuddin, Ph.D., dan Dr. Eng. Ir. Ferryanto, S.T., M.T., berperan sebagai dosen pembimbing yang mendampingi mahasiswa dalam menerapkan proses design thinking sekaligus memberikan konsultasi teknis mengenai keseluruhan sistem BASSCAM. Pendampingan tersebut meliputi perancangan dasar, optimasi geometri, pemilihan material struktural, analisis kekuatan struktur terhadap tekanan hidrostatik, hingga sistem kekedapan air.
Tim Mahasiswa FTMD
Tim mahasiswa terdiri atas Nicko Andreas, Marvin Pradipta, dan Gravin Hotasi Zakharia, yang seluruhnya berasal dari Program Studi Sarjana Teknik Mesin FTMD ITB.
Nicko Andreas berperan sebagai Mechanical Design and Manufacturing Engineer. Ia bertanggung jawab menyusun model tiga dimensi berbagai komponen BASSCAM, mulai dari housing tahan air hingga dudukan pada rangka (frame), kemudian mengintegrasikan seluruh komponen tersebut menjadi satu sistem utuh. Bersama Marvin, desain tersebut direalisasikan melalui berbagai proses manufaktur, seperti kerja bangku, pembubutan, frais, hingga 3D printing untuk menghasilkan komponen dengan geometri kompleks. Sebelum digunakan di laut, housing yang telah dibuat juga diuji ketahanannya terhadap tekanan dan kebocoran menggunakan pressure chamber.
Marvin Pradipta juga berperan sebagai Mechanical Design and Manufacturing Engineer dengan fokus pada perancangan struktur housing yang mampu melindungi seluruh komponen internal BASSCAM pada kedalaman hingga 200 meter. Selain melakukan proses manufaktur melalui pembubutan, milling, laser cutting, dan 3D printing, Marvin bersama Nicko juga bertanggung jawab melakukan pengujian kualitas (quality control) terhadap seluruh komponen yang telah diproduksi.
Sementara itu, Gravin Hotasi Zakharia berperan sebagai Electrical and Systems Engineer. Ia mengembangkan keseluruhan sistem elektrikal BASSCAM, mulai dari integrasi sensor kedalaman, IMU, GPS, aktuator (servo), kamera navigasi (RaspiCAM), hingga single board computer Raspberry Pi sebagai pusat kendali sistem. Ia juga mengembangkan sistem komunikasi berbasis fiber optic agar BASSCAM dapat dioperasikan dari permukaan dengan latensi komunikasi yang rendah. Selain itu, Gravin mengembangkan perangkat lunak yang mampu mengakuisisi data secara real-time dan menampilkan seluruh informasi navigasi melalui Human Machine Interface (HMI).
Sentuhan Engineering Mahasiswa FTMD
Seluruh proses pengembangan BASSCAM berlandaskan prinsip project management dan design thinking yang dipelajari mahasiswa melalui mata kuliah Perancangan dan Purwarupa Produk Rekayasa.
“Kami menerapkan teori perkuliahan ke dalam proyek nyata melalui pendekatan design thinking yang kami pelajari di mata kuliah ‘Perancangan dan Purwarupa Produk Rekayasa’. Setiap kebutuhan diterjemahkan ke dalam Design Requirements and Objectives (DRO), dimodelkan dalam 3D dengan prinsip DFMA (Design for Manufacturing and Assembly), dan divalidasi kekuatannya menggunakan metode elemen hingga (FEA),” jelas Nicko.
Secara umum, pekerjaan dibagi menjadi dua jalur utama, yaitu mekanikal dan elektrikal. Bidang mekanikal dikerjakan oleh Nicko dan Marvin, sedangkan Gravin menangani sistem elektrikal. Meski demikian, kedua aspek tersebut harus saling terintegrasi untuk memenuhi Design Requirement Objective (DRO) yang telah dirumuskan sejak awal proyek.
Dalam prosesnya, mahasiswa juga rutin berdiskusi dengan dosen pembimbing dan pengguna agar solusi rekayasa yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan. Menurut Nicko, keterlibatan para dosen dan pengguna memberikan banyak perspektif baru yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mahasiswa.
Seiring berkembangnya proyek, tim BASSCAM juga mulai melibatkan mahasiswa dari Teknik Elektro. Menurut Nicko, proyek berskala besar seperti ini memang membutuhkan kolaborasi lintas bidang agar setiap tantangan dapat diselesaikan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai. “Untuk proyek sebesar ini, melibatkan orang yang lebih ahli pada bidang yang berbeda merupakan keputusan yang bijak. Yang terpenting adalah setiap pihak mampu menyampaikan kebutuhan dan berdiskusi bersama agar solusi terbaik dapat ditemukan,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa Teknik Mesin, kontribusi utama mereka adalah menerjemahkan kebutuhan pengguna menjadi solusi rekayasa yang dapat diwujudkan. Mulai dari merumuskan fungsi-fungsi kritis, melakukan pemodelan tiga dimensi dengan mempertimbangkan prinsip Design for Manufacturing and Assembly (DFMA), hingga memvalidasi kekuatan struktur menggunakan analisis metode elemen hingga.
Di sisi lain, tim juga merancang arsitektur sistem elektrikal, menghitung kebutuhan daya, mengintegrasikan sensor dan aktuator, hingga melakukan pengujian sistem secara menyeluruh sebelum diterapkan di lapangan.
Tantangan Fisik dan Mental: Dari Lab hingga Hujan Badai
Di balik keberhasilan pengembangan BASSCAM, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi tim selama proses pengerjaan.
Menurut Nicko, tantangan terbesar justru berasal dari kemampuan membagi waktu. Seluruh anggota tim harus membagi waktu di antara jadwal perkuliahan yang padat dan penyusunan proposal Tugas Akhir.
Selain itu, proses desain juga tidak sederhana. Tim harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti feasibility, viability, dan kebutuhan pengguna sebelum menentukan desain akhir.
Proses pembuatan purwarupa menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Mereka harus bolak-balik melakukan pengadaan barang, berdiskusi dengan teknisi pengujian, hingga menerjang hujan badai Bandung. Di sisi elektrikal, tantangan muncul dalam bentuk trial-and-error saat mengulik mikrokomputer dan sensor. Sebelum diterjunkan ke laut, housing yang dibuat wajib melewati pengujian ketat di dalam pressure chamber (tabung simulasi tekanan) serta pengujian terkontrol di Kolam Saraga ITB untuk memastikan quality control yang mutakhir.
“Terkadang tidak sekali langsung berhasil, sehingga perlu melalui banyak trial and error. Namun justru dari situlah kami banyak belajar,” ungkap Nicko.
Menaklukkan Gelombang Kepulauan Seribu dan Pulau Menjangan
Setelah melalui berbagai tahap perancangan dan pengujian di Kolam Saraga ITB, tibalah tahap yang paling dinantikan sekaligus paling menegangkan, yaitu pengujian langsung di laut.
Lokasi pertama adalah Kepulauan Seribu, dengan target memperoleh dokumentasi visual pada kedalaman sekitar 80 meter.
“Sebagai mahasiswa teknik mesin yang jarang kuliah lapangan, ini pengalaman yang sangat memorable. Kami harus melakukan troubleshooting dan monitoring langsung di atas kapal yang terombang-ambing di tengah laut. Hasilnya luar biasa, kami sukses mencapai titik terdalam dan mendapat data visual dasar laut yang kami inginkan,” ungkap Gravin penuh semangat.
Pengujian tersebut berhasil mencapai target yang diharapkan. Tim mampu memperoleh dokumentasi visual dari lokasi terdalam di wilayah tersebut sesuai kebutuhan penelitian.
Namun keberhasilan tersebut bukanlah tujuan akhir. Target utama pengembangan BASSCAM adalah mampu beroperasi pada kedalaman 200 meter.
Oleh karena itu, berbagai pembelajaran dari Kepulauan Seribu kemudian menjadi bekal penting dalam pengembangan generasi berikutnya sebelum dilakukan pengujian kedua di Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat.
Berbeda dengan pengujian pertama, kondisi laut di Pulau Menjangan jauh lebih menantang. Gelombang yang tinggi serta cuaca yang sangat panas membuat proses pengujian berlangsung lebih berat dibandingkan sebelumnya.
“Pengujian kedua memberikan pelajaran berharga bahwa produk rekayasa tidak akan langsung sempurna dalam sekali jadi. Ada proses pengembangan panjang yang dibutuhkan. Namun, tantangan di lapangan itulah yang melatih kemampuan problem solving kami secara nyata,” tambah Gravin.
Ia menambahkan bahwa BASSCAM memang dirancang sebagai proyek pengembangan jangka panjang sehingga generasi mahasiswa berikutnya dapat terus melanjutkan penyempurnaannya.
Menumbuhkan Optimisme terhadap Kemandirian Teknologi Indonesia
Bagi Gravin, pencapaian terbesar dari proyek ini bukan hanya keberhasilan mengembangkan sebuah wahana bawah laut, melainkan munculnya keyakinan bahwa mahasiswa Indonesia mampu berkontribusi dalam membangun kemandirian teknologi nasional.
“Menurut saya, pencapaian yang paling berharga justru terletak pada lahirnya keyakinan baru bahwa mahasiswa memiliki peluang yang sangat besar untuk membuka jalan menuju kemandirian teknologi bangsa, salah satunya melalui inovasi pemetaan visual bawah laut ini,” ujarnya.
Melalui proyek ini, tim juga memperoleh banyak pelajaran mengenai pentingnya kolaborasi lintas disiplin. Seorang ahli geodesi mungkin memiliki tantangan tertentu, namun mahasiswa Teknik Mesin harus mampu menerjemahkan tantangan tersebut menjadi solusi rekayasa yang efektif.
Selain kemampuan teknis, mereka juga menyadari pentingnya kemampuan berpikir kritis, komunikasi, pemecahan masalah, kemampuan belajar dengan cepat, serta kemampuan bekerja sama ketika menghadapi kondisi lapangan yang tidak selalu sesuai dengan hasil simulasi.
Menutup wawancara, Gravin berpesan agar mahasiswa FTMD tidak ragu memanfaatkan berbagai kesempatan yang tersedia selama berkuliah.
“Proyek riset seperti BASSCAM merupakan salah satu cara terbaik untuk mengimplementasikan ilmu yang telah kita pelajari. Jangan pernah takut keluar dari zona nyaman dan manfaatkan setiap peluang yang ada. FTMD ITB banyak memberikan kita kesempatan, tetapi diri sendirilah yang menentukan apakah kesempatan itu akan diambil atau tidak.”
Semangat tersebut sejalan dengan kutipan tokoh kedirgantaraan dunia yang menjadi inspirasi tim selama mengembangkan BASSCAM:
Melalui BASSCAM, mahasiswa FTMD ITB membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di ruang kuliah dapat diwujudkan menjadi solusi nyata bagi kebutuhan bangsa. Inovasi ini tidak hanya mendukung riset kelautan Indonesia, tetapi juga menjadi langkah awal menuju kemandirian teknologi bawah laut yang dikembangkan oleh putra-putri bangsa.
#BASSCAM #FTMDITB #FITBITB #SDG4 #SDG9 #SDG14