Bandung, itb.ac.id – Dua mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jeffrey Sirait dari Program Studi Teknik Dirgantara angkatan 2022 dan Manggora Zerah Kristina Simanjuntak dari Program Studi Teknik Material angkatan 2022, berhasil meraih Gold Medal dan penghargaan Best International Team pada ajang Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC) 2026 di Singapura.

Dalam kompetisi teknologi UAV tingkat internasional tersebut, keduanya tergabung dalam tim bernama BUCINPRO dan berkompetisi pada kategori Man-Machine, tanpa pendanaan eksternal dan tanpa sepengetahuan dosen pembimbing. Prestasi ini diraih melalui inovasi berupa sarung tangan pengendali drone (wearable drone controller) yang dikembangkan dari tugas akhir Jeffrey berjudul “Pengembangan Controller Berbasis Drone Wearable”.

SAFMC sendiri merupakan kompetisi teknologi UAV bergengsi yang diikuti oleh berbagai institusi dan tim internasional setiap tahunnya. Pada kompetisi ini, peserta ditantang untuk menghadirkan inovasi sistem penerbangan tanpa awak yang mampu menunjukkan performa, kreativitas, dan integrasi teknologi secara langsung di lapangan.

Berbeda dari sebagian besar peserta lain yang menggunakan remote konvensional dengan banyak perangkat tambahan, Tim BUCINPRO menjadi satu-satunya tim yang menggunakan sarung tangan sebagai pengendali utama drone. Inovasi tersebut memanfaatkan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang mampu membaca gerakan telapak tangan pilot secara real-time.

Data gerakan yang ditangkap sensor kemudian diproses menggunakan mikrokontroler bersama input dari beberapa tombol pendukung yang memiliki fungsi serupa dengan remote konvensional. Selanjutnya, data dikirim melalui transmitter yang terpasang pada sarung tangan untuk berkomunikasi langsung dengan drone. Melalui sistem ini, drone dapat dikendalikan secara lebih intuitif hanya melalui gerakan tangan pengguna.

Menurut Jeffrey Sirait, pengembangan sistem ini tidak hanya berfokus pada bentuk sarung tangan, tetapi juga pada kualitas keseluruhan sistem kendali yang dikembangkan. Ia memilih kompetisi internasional sebagai sarana untuk menguji langsung performa riset tugas akhirnya dalam kondisi nyata.

Persiapan pengembangan sistem dilakukan sejak Desember 2025. Menariknya, proses pengembangan dilakukan secara jarak jauh antara Tokyo dan Bandung. Saat menjalani program student exchange sebagai mahasiswa jalur internasional (IUP) di Tokyo, Jeffrey berfokus pada perancangan sistem dan pengembangan perangkat lunak, sementara Manggora Zerah Kristina Simanjuntak menangani proses perakitan perangkat di Bandung. Melalui komunikasi dan koordinasi intensif, sistem akhirnya berhasil diselesaikan dan siap diuji pada kompetisi SAFMC 2026.

Bagi Jeffrey, kompetisi ini bukan pengalaman pertamanya di SAFMC. Pada dua tahun sebelumnya, ia juga berhasil meraih Gold Medal dan Best International Team bersama Tim Aksantara ITB. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman lebih mendalam mengenai perkembangan teknologi dan tren kompetisi UAV internasional.

Di tengah persaingan dengan berbagai tim internasional yang memiliki jumlah anggota lebih besar dan dukungan perangkat yang kompleks, Tim BUCINPRO tetap percaya diri membawa inovasi yang mereka kembangkan sendiri. Kerja keras dan keberanian untuk mencoba menjadi kunci utama perjalanan mereka hingga berhasil membawa pulang penghargaan internasional.

Melalui capaian ini, mahasiswa FTMD ITB kembali menunjukkan kemampuan dalam menghadirkan inovasi teknologi yang aplikatif dan kompetitif di tingkat global. Pengembangan sistem pengendali drone berbasis wearable tersebut juga membuka peluang pengembangan teknologi interaksi manusia dan UAV yang lebih intuitif, efisien, dan adaptif di masa depan.

Selain menjadi pencapaian akademik, keberhasilan ini turut menunjukkan bagaimana riset mahasiswa dapat dikembangkan menjadi inovasi nyata yang mampu bersaing di forum internasional. Tim BUCINPRO berharap semakin banyak mahasiswa berani mencoba, mengembangkan ide, dan menguji hasil riset mereka secara langsung melalui berbagai kompetisi dan kolaborasi global.