Pada tanggal 26 dan 27 Oktober 2008 lalu di Kampus Institut Teknologi Bandung diselenggarakan sebuah kontes robot terbang yang diberi nama Indonesian Indoor Aerial Robot Contest 2008 (IIARC2008). Dalam pelaksanaannya kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan AeroExpo 2008 yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiwa Teknik Penerbangan ITB.

Kegiatan kontes IIARC2008 diprakarsai oleh Dr. Taufiq Mulyanto, staf pengajar di Program Studi Aeronotika dan Astronotika (sebelumnya bernama Program Studi Teknik Penerbangan), Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB dengan tujuan untuk mengembangkan semangat kedirgantaraan di kalangan mahasiswa. Penggunaan kata ‘Contest’ juga lebih dimaksudkan untuk menekankan semangat ‘melakukan yang terbaik’ dari pada semata-mata berkompetisi dan meraih kemenangan. Sehingga yang diharapkan dari contest ini adalah terbentuknya semangat kebersamaan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam pengembangan teknologi kedirgantaraan. Kontes IIARC2008 di ITB telah mendapat pengakuan dari Japan Society of Aeronautics and Space Sciences (JSASS). Aturan yang digunakan mengadopsi aturan yang digunakan dalam kontes yang sama yang diselenggarakan oleh University of Tokyo di Jepang.

Misi penerbangan yang diberikan dalam kontes ini mensimulasi sebuah misi pemantauan udara dengan menggunakan video kamera yang terpasang pada pesawat dan ditransmisikan secara on-line ke ruang observasi. Peserta diharuskan merancang, membuat dan menerbangkan pesawat masing-masing dengan membawa sebuah micro-camera seberat 15 gram yang telah disediakan oleh penyelenggara. Tantangan yang diberikan kepada tiap peserta menuntut baik penguasaan teoritis maupun penguasaan praktis. Batasan berat pesawat sebesar 150 gr (termasuk berat micro-camera) menuntut keahlian dalam merancang pesawat yang sesuai untuk misi pengambilan gambar ini. Kemudian kemampuan praktis diperlukan untuk mewujudkan hasil rancangan pesawat, melakukan adaptasi desain dan menerbangkannya.

Kontes ini diikuti oleh 15 tim peserta yang terbagi dalam dua kategori, kategori umum sebanyak 5 tim dan kategori Perguruan Tinggi sebanyak 10 tim yang berasal dari 5 Perguruan Tinggi di Indonesia, yakni Universitas Indonesia, STTA Yogyakarta, Universitas Hasanudin Makassar, Universitas Nurtanio Bandung, dan Institut Teknologi Bandung. Dengan mengikutkan dua kategori ini diharapkan terjadi interaksi antara mahasiswa dengan komunitas penerbangan masyarakat luas sehingga dapat saling belajar dan bertukar pikiran dimana masing-masing membawa latar belakang pengetahuan yang mungkin berbeda.

Sebelum mengikuti kontes terbang, pada hari pertama kontes, setiap tim diwajibkan untuk memberikan presentasi teknis kepada dewan juri yang terdiri dari wakil akademisi, praktisi dan potensial user yang diwakili oleh Balitbang Dephan. Pada saat yang sama, pesawat tim peserta juga divalidasi untuk mengecek berat pesawat dan keselamatannya. Dari ke-15 tim yang terdaftar ini, hanya 12 tim yang dapat dinyatakan lulus validasi dan dapat mengikuti kontes terbang. Penyebab utama kegagalan tim dalam validasi adalah batasan berat maksimum sebesar 150 gr. Hal ini mengindikasikan bahwa aspek berat pesawat merupakan tantangan dalam bidang kedirgantaraan. Namun demikian, hal tersebut bukannya tidak mungkin diatasi. Berat pesawat teringan yang tercatat adalah dari Tim Papatong dari Bandung dengan berat kurang dari 127 gr (termasuk micro camera). Adalah sangat menarik untuk mencermati berbagai solusi desain yang dipilih oleh masing-masing tim. Meskipun konfigurasi desain pesawat yang dipilih tim peserta umumnya masih berupa konfigurasi konvensional dengan sayap, fuselage dan ekor tegak dan ekor datar, namun beberapa tim memilih konfigurasi desain yang berbeda. Tim Pijer, misalnya untuk kategori umum, memilih menggunakan konfigurasi flying wing (single lifting surface) sementara Tim Bul-bul dari ITB untuk kategori perguruan tinggi memilih konfigurasi triple lifting surface. Tim Firefly dari Unhas menampilkan desain dengan differential thurst untuk kendali direksional. Adalagi sebuah Tim FreeBird Micro UAV juga dari ITB memilih konfigurasi Flying wing dengan sistem pergerakan titik berat untuk kendali longitudinal.

Dalam kontes terbang yang diadakan tanggal 27 oktober 2008 di Gedung Serba Guna, Kampus ITB, peserta diminta untuk menerbangkan pesawat masing-masing yang sudah dilengkapi dengan micro camera untuk melewati gawang dan melakukan pengamatan di atas sebuah zona observasi berdiameter 20 meter. Dalam zona observasi diletakkan 20 macam karakter berbeda dengan tiga ukuran kertas berbeda: A4, A3 dan A2. Ukuran kertas terkecil adalah A4 atau 210mmx297mm dan ukuran kertas terbesar A2 atau 420mm x 594mm. Selama penerbangan, micro-camera memancarkan gambar yang diambil ke sebuah penerima di ruang observasi, dimana salah seorang anggota tim peserta bertindak selalu observer yang akan mencatat karakter-karakter yang terlihat.

Penilaian akhir adalah berdasarkan jumlah karakter yang terbaca benar, jumlah karakter yang terbaca salah, lama pelaksanaan misi, jumlah pendaratan dan berat pesawat dengan pembobotan tertentu. Semakin banyak karakter benar terbaca, semakin singkat misi diselesaikan, semakin sedikit jumlah pendaratan dan semakin ringan pesawat, maka nilai yang diperoleh akan semakin besar.

Pelaksanaan kontes dibagi dalam dua babak, yaitu babak penyisihan, dimana dipilih tiga tim terbaik untuk bertanding dalam babak final. Kontes berlangsung dengan sangat meriah dan penuh suasana kebersamaan antara tim peserta. Diskusi, tukar pikiran dan saling membantu secara sportif terjadi dalam suasana yang menyenangkan. Pada saat sebuah tim berlaga, apresiasi dari peserta tim lain maupun dari penonton terlihat dengan memberikan tepuk tangan yang meriah untuk setiap keberhasilan maupun ketidakberhasilan dengan tujuan memberikan semangat.

Di akhir kontes, ditetapkan tiga pemenang dari kategori umum dan tiga pemenang dari kateogir perguruan tinggi serta dua penghargaan untuk presentasi terbaik dan desain terunik. Juara Pertama dari masing-masing kategori berhak mendapatkan Piala Rektor ITB. Juara pertama kategori umum diraih oleh Tim Kepik dari Jakarta, juara kedua dan ketiga oleh tim Pijer dan Papatong dari Bandung. Untuk kategori perguruan tinggi, juara pertama diraih oleh tim Bul-Bul dari ITB, juara kedua oleh Tim STTA Aeromodelling Club dari STTA Yogyakarta dan juara ketiga oleh Tim Fairie Dragon dari ITB. Sementara penghargaan presentasi terbaik diraih oleh Tim Downstair’s Lab Gank dari ITB dan penghargaan desain terunik oleh Tim Freebird Micro UAV dari ITB. Hadiah kepada para pemenang diberikan langsung oleh Dr. Leonardo Gunawan selaku Ketua Program Studi Aeronotika dan Astronotika, FTMD-ITB. Selain hadiah berupa piala dan penghargaan, diberikan juga hadiah berupa paket Radio Control hingga kit pesawat layang yang disponsori oleh PT Telenetina dan PT MiRP Bandung.

Penyelenggaraan kontes ini mendapat apresiasi dari banyak pihak, baik akademisi, praktisi maupun dari user potential. Direncanakan kontes serupa akan diadakan lagi tahun depan. Diharapkan kontes tahun depan akan lebih sukses lagi dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak dan dengan dukungan dari pihak yang lebih banyak lagi.

Kiranya, kontes ini adalah permulaan dari sebuah usaha untuk meningkatkan semangat kedirgantaraan di kalangan masyarakat luas, khususnya para mahasiswa di perguruan tinggi. Sebuah keberlanjutan perlu dijaga agar semangat tersebut dapat mengkristal dan berbuah manis dikemudian hari untuk kemajuan iptek nasional, khususnya bidang kedirgantaraan. Penyelenggaraan kontes ini mendukung misi ITB, khususya Program Studi Aeronotika dan Astronotika, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB yang mengemban misi pendidikan kedirgantaraan.