FTMD Mengembangkan 3 in 1 Face Protector Buatan Dalam Negeri
Pada bulan Agustus 2020, tim riset FTMD, dipimpin oleh Yuli Setyo Indartono, salah satu dosen program studi Teknik Mesin, menginisiasi pengembangan pelindung wajah (face protector) 3 in 1 yang diharapkan dapat turut menjadi bagian dari penanggulangan pandemi Covid-19 di Indonesia. Alat pelindung diri seperti masker, pelindung wajah dan mata (face shield dan eye protector/google), biasanya digunakan secara terpisah. Oleh sebab itu, ide dari 3 in 1 Face Protector adalah menggabungkan masker (tipe N-95), face shield, dan eye protector/google.

Di luar negeri sendiri, kendati sudah ada produk serupa yaitu PAPR (powered air purifying respirators), harganya sangat mahal sehingga penggunaannya dalam negeri masih jarang. Selain itu, terdapat kesulitan dalam mengimpor karena tingginya permintaan PAPR di luar negeri. Dengan demikian, pengembangan produk dalam negeri, seperti 3 in 1 Face Protector, diharapkan bisa menjadi solusi.
Tim riset FTMD sendiri sebelumnya sudah melakukan beberapa riset untuk membantu masyarakat dan tenaga kesehatan di masa pandemi, diantaranya adalah pembuatan face shield dan kabin sterilisasi. Riset pertama yang dilakukan yaitu pembuatan face shield pada bulan Maret 2020. Tim riset FTMD berhasil membuat 8000 unit dan membagikannya secara gratis pada berbagai rumah sakit dan puskesmas yang membutuhkan. Selanjutnya dilakukan riset berupa pembuatan kabin sterilisasi pada bulan Mei 2020 yang didanai oleh ITB, dosen, dan alumni. Pembuatan prototype 3 in 1 Face Protector dimulai pada bulan Januari 2021. Dengan jumlah 10 unit, prototype ini berhasil diujicoba pada RS Hasan Sadikin, RS Cibabat, RS Cililin, Puskesmas Cimahi, dan dua klinik kesehatan lainnya.
Penggunaan 3 in 1 Face Protector ini dapat dilakukan berkali-kali dengan hanya mengganti satu komponen setiap selesai penggunaan, yaitu filter medis industrial grid N-95 yang terletak di depan mulut. Selain itu, terdapat filter yang terletak di box, lokasi filter ini tidak terpapar langsung dengan nafas orang lain sehingga penggantiannya dapat dilakukan lebih jarang. Salah satu keunggulan dari 3 in 1 Face Protector ini adalah pembersihan bagian dalamnya yang mudah karena tidak perlu sterilisasi ulang, dan juga tidak akan menghasilkan embun karena keberadaan one-way-valve. Berbeda dengan pakaian snorkeling biasa, keberadaan one-way-valve pada alat ini membuat kontaminasi bakteri atau virus ke dalam alat akan lebih sulit terjadi.
Terdapat beberapa rencana pengembangan 3 in 1 Face Protector yang didapat dari umpan balik pengguna. Pertama, dapat ditambahkan wireless microphone pada alat agar suara dokter dapat terdengar. Kedua, dapat ditambahkan fitur kacamata agar dapat digunakan oleh pengguna dengan penglihatan bermasalah. Terakhir, tekanan blower perlu ditingkatkan agar flow rate-nya juga meningkat.
Saat ini, riset 3 in 1 Face Protector di FTMD dikembangkan menjadi mata kuliah keprofesian, sehingga mahasiswa bisa turut serta di dalamnya. Mahasiswa dengan domisili di luar Jakarta dan Bandung dapat membantu dengan mencari market research pada industri lain seperti industri keramik dan kayu. Sedangkan mahasiswa yang berdomisili Jakarta dan Bandung dapat melakukan pengembangan hardware, membuat fitur-fitur terbaru, dan juga mengurus perizinan. Selain pengembangan mata kuliah, sudah terdapat juga kolaborasi dengan PT Rekacipta Inovasi ITB untuk mencari industri-industri yang berminat dalam pengembangan alat.
Pelajaran penting bagi bangsa kita melalui inovasi-inovasi saat pandemi ini adalah dengan adanya kolaborasi antara industri, pemerintah, dan universitas atau lembaga riset, kita dapat bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan produk dalam negeri secara mandiri dan tidak bergantung pada produk luar negeri. Selain itu, mahasiswa juga harus mampu berinovasi dengan memiliki kompetensi yang baik di bidang sains dan engineering.

Sumber:
Dr. Yuli Setyo Indartono
Dosen Program Studi Teknik Mesin
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung