Bandung – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-67, Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Sidang Terbuka Dies Natalis ke-67 pada Senin (2/3/2026). Acara tersebut diadakan di Aula Barat, Kampus ITB Ganesha.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa pencapaian ITB menuju target peringkat 150 World University 2030 tidak dapat dilepaskan dari kualitas insan akademik yang terus berkontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban global.

Melalui kolaborasi lintas disiplin, penguatan tata kelola, dan perluasan jejaring internasional, ITB diarahkan untuk terus menghadirkan solusi atas tantangan nasional di bidang industri, energi, dan kesehatan,” ujar Prof. Tata.

Pada kesempatan ini juga terdapat Orasi Ilmiah dari Direktur Riset dan Inovasi ITB sekaligus Guru Besar dari Kelompok Keahlian (KK) Biologi Farmasi Sekolah Farmasi (SF) ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. Beliau membawakan topik “Hilirisasi dan Komersialisasi Riset dan Inovasi Bahan Alam Indonesia untuk Kemandirian Kesehatan”.

Dalam orasinya, Prof. Elfahmi menekankan besarnya potensi biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku obat dan produk kesehatan berbasis bahan alam yang perlu dioptimalkan melalui hilirisasi terstruktur, mulai dari riset hingga pengembangan produk siap edar. Ia menegaskan bahwa penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi atau paten, melainkan harus diwujudkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat melalui kolaborasi kampus, industri, pemerintah, dan regulator. Menurutnya, penguatan riset dan produksi dalam negeri merupakan langkah strategis menuju kemandirian dan kedaulatan kesehatan nasional.

Dalam Sidang Terbuka ini juga dihadiri oleh pimpinan dan anggota Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik (SA), Forum Guru Besar, pimpinan fakultas dan sekolah, sivitas akademika, mitra, serta berbagai pemangku kepentingan. Ketua MWA ITB, Budi Gunadi Sadikin, menekankan pentingnya tata kelola yang adaptif dan akuntabel serta sinergi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha untuk memperkuat ekosistem inovasi dan mendorong hilirisasi riset yang berdaya saing. Sementara itu, Ketua Senat Akademik ITB, Prof. Edy Tri Baskoro, menegaskan bahwa transformasi institusi harus tetap berlandaskan mutu akademik, kebebasan ilmiah, dan integritas guna menjaga kualitas serta relevansi kontribusi ITB bagi pembangunan nasional.

Sidang terbuka ini turut diisi dengan prosesi penganugerahan penghargaan kepada para dosen sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan. Penghargaan tersebut mencakup berbagai bidang. Momentum ini menjadi wujud penghormatan atas komitmen dan konsistensi para dosen dalam memperkuat kualitas akademik serta reputasi institusi.

Berikut daftar dosen penerima penghargaan dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB:

  • Bidang Pengajaran: Dr. Ir. Budi Hartono Setiamarga
  • Bidang Penelitian/Karya Inovasi: Dr. Eng. Ir. Firman Bagja Juangsa, S.T., M.Eng.
  • Bidang Pengabdian kepada Masyarakat: (Alm.) Dr. Eng. Ir. Agung Wibowo, M.T.
    Penghargaan diterima oleh istri almarhum yang hadir mewakili keluarga
  • Bidang Pengembangan Institusi: Dr. Ir. Taufiq Mulyanto, S.T., DEA 

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., di Aula Barat ITB. Selamat kepada para dosen penerima penghargaan. Semoga dedikasi dan karya-karyanya terus menginspirasi, memperkuat budaya akademik yang berintegritas, serta mendorong lahirnya inovasi baru yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan dan pembangunan baik di ITB serta Indonesia.

Pencapaian dan kontribusi yang ditorehkan oleh sivitas akademika ini menjadi bukti nyata bahwa ITB terus bergerak maju sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul, kolaboratif, dan adaptif terhadap tantangan global. ITB terus berkomitmen menghadirkan dampak nyata yang tidak hanya dirasakan di tingkat nasional, tetapi juga berkontribusi bagi kemajuan dunia.