Mahasiswa Program Doktor Teknik Dirgantara, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Aziz Fathurrahman, mengembangkan sistem navigasi berbasis visual-inersial untuk Autonomous Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang mampu beroperasi pada kondisi tanpa sinyal GPS (GPS-denied).  Penelitian ini dilakukan di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Hari Muhammad, Dr. Ir. Yazdi Ibrahim Jenie, S.T., M.T., dan Ony Arifianto, Ph.D.

Riset ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan sistem navigasi UAV konvensional yang masih bergantung pada sinyal Global Positioning System (GPS). Pada kondisi tertentu, seperti di wilayah pegunungan, hutan lebat, tebing, maupun area dengan penghalang fisik tinggi, sinyal GPS sering kali tidak tersedia atau terganggu, sehingga dibutuhkan sistem alternatif yang tetap mampu menjaga akurasi dan performa navigasi.

Melalui penelitiannya, Aziz mengembangkan pendekatan sistem navigasi berbasis visual-inersial yang mengombinasikan data dari sensor kamera dan inersial. Salah satu kontribusi utamanya adalah pengembangan algoritma Switching Extended Kalman Filter, yang dirancang untuk meningkatkan performa navigasi UAV, khususnya saat menghadapi kondisi transisi antara lingkungan dengan dan tanpa sinyal GPS.

Hasil penelitian tersebut dipresentasikan dalam konferensi internasional SAWAE-ISAST 2025 melalui paper berjudul “Switching Extended Kalman Filter for Integrated UAV Navigation in GNSS and GNSS-denied Environment.” SAWAE-ISAST merupakan forum ilmiah gabungan antara Southeast Asia Workshop on Aerospace Engineering (SAWAE) dan International Seminar on Aerospace Science and Technology (ISAST) yang mempertemukan peneliti dari berbagai negara di bidang teknik dirgantara untuk berbagi riset, inovasi, dan peluang kolaborasi.

Pada kesempatan ini, Aziz memaparkan konsep utama serta pendekatan yang dikembangkan dalam sistem navigasi tersebut sebagai solusi untuk kondisi GPS-denied. Atas kontribusi tersebut, ia berhasil meraih penghargaan Best Paper.

Selain dipresentasikan di SAWAE-ISAST 2025, penelitian yang merupakan bagian dari disertasi Aziz ini juga dipresentasikan pada ICARES 2025 dengan judul “Observability Analysis of a Switching Extended Kalman Filter for Small UAV Navigation.” Berbeda dengan paper sebelumnya yang berfokus pada pengembangan konsep dan sistem, pada ICARES 2025 Aziz membahas analisis lebih mendalam terhadap algoritma yang dikembangkan.

ICARES merupakan konferensi ilmiah internasional yang berfokus pada bidang teknik dirgantara dan teknologi antariksa, serta menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, dan praktisi untuk berbagi hasil riset dan perkembangan terbaru. Melalui pendekatan observability analysis, penelitian ini menunjukkan secara analitik bahwa algoritma Switching Extended Kalman Filter mampu meningkatkan akurasi navigasi UAV, khususnya pada kondisi tanpa GPS.

Atas kontribusi tersebut, Aziz berhasil meraih penghargaan Best Paper pada ICARES 2025 sebagai bentuk apresiasi atas kebaruan dan kualitas ilmiah dari penelitian yang diusulkan.

Dalam proses penelitiannya, Aziz mengungkapkan bahwa menemukan kebaruan riset (novelty) menjadi tantangan tersendiri, mengingat bidang sistem navigasi UAV telah berkembang cukup luas. Ia melalui proses panjang dengan membaca berbagai literatur, berdiskusi dengan pembimbing, serta berinteraksi dengan sesama peneliti dan praktisi UAV hingga akhirnya menemukan arah pengembangan yang tepat.

Melalui capaian ini, pengembangan sistem navigasi UAV diharapkan semakin adaptif dan andal untuk berbagai kondisi operasional. Keberhasilan ini juga menunjukkan kontribusi mahasiswa FTMD ITB dalam pengembangan teknologi dirgantara yang relevan di tingkat global.

Aziz turut menyampaikan pesan bagi mahasiswa yang ingin menulis paper dan mengikuti konferensi internasional. Ia menekankan pentingnya menjalani proses riset dengan semangat dan menikmati setiap tahapnya, termasuk saat menghadapi berbagai tantangan, karena proses tersebut tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga membentuk pola pikir kritis dan kesiapan dalam menghadapi dunia riset internasional.

Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa perlu mampu menemukan kebaruan (novelty) dalam penelitian, memahami ketentuan penulisan sesuai standar konferensi atau jurnal yang dituju, serta memperhatikan alur dan jadwal pelaksanaan. Selain itu, persiapan presentasi yang matang juga menjadi hal penting, sehingga hasil riset dapat disampaikan dengan percaya diri dan sesuai dengan waktu yang ditentukan.