Airgency, Ventilator darurat dari FTMD ITB

Dunia saat ini sedang menghadapi pandemi akibat dari penyebaran cepat penyakit Covid-19 akibat virus Corona. Bermula dari Wuhan, kini diprediksi bahwa kasus di Indonesia akan mencapai 27.300 kasus positif, hingga akhir bulan April (BIN). Dengan angka yang sedemikian besar, instalasi kesehatan di Indonesia akan segera mencapai batas kapasitasnya, dan krisis ketersediaan peralatan kesehatan, seperti APD, ventilator, maupun resuscitator, tidak dapat dihindari.
Memperhatikan kondisi tersebut, sebuah tim dosen dari FTMD ITB berinisiatif merancang suatu alat medis darurat yang sederhana untuk dapat meringankan beban tim medis dan menghindari krisis peralatan medis. Tim dosen ini terdiri dari Christian Reyner, Dr. Khairul Ummah, Dr. Yazdi I. Jenie, dan Dr. Djarot Widagdo dari FTMD, serta Muhammad Ihsan dari FSRD ITB. Dibantu dengan mitra dari PT. Bentara Tabang Nusantara (BETA), terciptalah purwarupa alat medis darurat dengan nama Airgency: Emergency Automatic Bag-Ventilator.
Airgency dirancang sebagai alat yang dapat meringankan beban kerja tenaga medis, dengan meng-otomisasi kerja manual untuk menekan suatu ambu-bag (kantong udara) guna mempertahankan aliran oksigen ke seorang pasien. Otomatisasi dari kerja ini adalah strategi paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan ventilator low-cost (murah), sekaligus mudah diproduksi dalam jumlah besar secara cepat. Strategi ini juga memungkinkan tim medis untuk dengan cepat beralih kembali ke kerja manual, karena ambu-bag pada Airgency dapat diambil dengan mudah.

Airgency dirancang untuk secara otomatis menekan/lepas suatu ambu-bag, dengan menggunakan metode mekanik. Dua capit otomatis menjepit ambu-bag dengan frekuensi dan kekuatan yang dikontrol dengan presisi, sehingga dapat dicapai Tekanan,Tidal Volume, dan Rasio I/E yang diinginkan. Beberapa knop input juga disediakan untuk tim medis mengatur berbagai kebutuhan pasien. Selain fungsi resusitasi, alat ini lengkapi juga dengan Assisted Breathing mode yang dapat membantu pernafasan pasien tanpa memaksa aliran udara ke paru-paru. Purwarupa Airgency, yang sedang dalam proses pendaftaran HAKI, dibuat berbasis 3D printer, dengan harapan produksi dapat dilakukan oleh perusahan manufaktur kecil di seantero Indonesia dengan cepat.

Alat seperti ini bukanlah suatu konsep yang baru; diseluruh dunia dapat ditemukan alat yang serupa, dengan berbagai metode untuk menekan ambu-bag dan menghasilkan aliran oksigen yang memenuhi kebutuhan. Sebagai contoh E-vent dari MIT (https://e-vent.mit.edu/), OxyGEN dari Protofy (https://www.oxygen.protofy.xyz/), dan Apollo BVM dari Rice University (http://oedk.rice.edu/apollobvm/). Pada masa wabah sekarang ini, alat-alat ini dipandang sebagai alternatif jitu membantu para tenaga medis di garis depan.
Meskipun demikian, standar performa dan keamanan penggunaan alat untuk keperluan medis bukanlah sesuatu yang main-main. Purwarupa Airgency dikonsultasikan ke berbagai pihak medis dalam pengembangannya, terutama tim dokter anastesi dari Universitas Padjajaran: dr. Ike Sri Rejeki dan dr. Reza Widianto Sudjud, beserta tim dari Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan Jakarta (BPFK). Purwarupa Airgency telah melalui berbagi tes dengan hasil yang cukup menggembirakan. Beberapa tes tambahan masih diperlukan, seperti test endurance dan test trial ke pasien. Besar harapan dari Tim FTMD, agar alat ini benar-benar dapat membantu tim medis Indonesia melawan wabah Covid-19.