BANDUNG, ftmd.ac.id – Perjalanan akademik tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Bagi Azaria Haykal Ahmad, alumni Teknik Mesin ITB angkatan 2018, rasa ingin tahu terhadap berbagai bidang energi membawanya dari penelitian biomassa, geotermal, amonia, hingga kini mendalami teknologi hidrogen dan dekarbonisasi di The University of Tokyo, Jepang.

Setelah menyelesaikan studi S1 Teknik Mesin ITB dan melanjutkan S2 melalui program fast track pada 2022, Haykal kini menempuh pendidikan doktoral di The University of Tokyo di bawah bimbingan Prof. Muhammad Aziz dan Prof. Shikazono Naoki. Saat ini, ia juga menjalankan aktivitas riset sebagai special research student di Tohoku University setelah perpindahan institusi Prof. Aziz.

Haykal bersama Prof. Muhammad Aziz
Haykal bersama Prof. Muhammad Aziz dalam kegiatan zemi bersama mahasiswa.

Selain penelitian, Haykal aktif sebagai Energy Policy Research Officer di Youth for Energy Southeast Asia dan sebelumnya pernah mengemban amanah sebagai Ketua PPI Todai (Persatuan Pelajar Indonesia the University of Tokyo/Tokyo Daigaku).

Dari Rasa Penasaran Menuju Dunia Riset Energi

Ketika ditanya mengenai alasan melanjutkan studi hingga jenjang doktoral, Haykal menjawab sederhana bahwa ia ingin menjadi dosen dan peneliti.

Ketertarikannya terhadap dunia energi berkembang sejak masa kuliah di ITB. Awalnya ia mempelajari biomassa, kemudian mendalami geotermal melalui berbagai kompetisi, mempelajari waste to energy dari Dr.Eng. Ir. Pandji Prawisudha, S.T., M.T., solar thermal dari Dr.Eng. Achmad Rofi Irsyad, S.T., M.Eng., hingga akhirnya menekuni topik amonia bersama Prof. Dr. Ir. Prihadi Setyo Darmanto dan Dr.Eng. Ir. Firman Bagja Juangsa, S.T., M.Eng. Menurutnya, bidang energi memiliki ruang eksplorasi yang sangat luas.

“Semakin dipelajari, semakin terasa bahwa satu pertanyaan selalu melahirkan pertanyaan lain. Awalnya biomassa, lalu geotermal, amonia, hidrogen, hingga sekarang chemical looping,” ungkapnya.

Ketertarikan tersebut juga dipengaruhi oleh pengalamannya saat pengenalan FTMD ITB, ketika ia mendengar pemaparan mengenai pembangkit listrik tenaga biomassa di Mentawai dari Pak Jaya Wahono.

Saat itu, ia menyadari bahwa ilmu teknik mesin tidak hanya berkaitan dengan desain dan perhitungan, tetapi juga dapat menjadi solusi bagi permasalahan nyata di masyarakat.

Mengembangkan Teknologi Produksi Hidrogen dari Biomassa

Skematik CLHG

Saat ini, Haykal melakukan penelitian mengenai Chemical Looping Hydrogen Generation (CLHG), yaitu teknologi untuk menghasilkan hidrogen dari biomassa melalui proses termokimia.

Secara sederhana, teknologi ini menggunakan material bernama oxygen carrier yang berperan dalam proses reaksi untuk menghasilkan hidrogen sekaligus menangkap karbon dioksida.

Batu Badar

Dalam penelitiannya, Haykal menggunakan Fe₂O₃ serta mengeksplorasi penggunaan Batu Badar sebagai oxygen carrier alami.

Menariknya, Batu Badar yang selama ini dikenal sebagai batu cincin ia coba lihat dari perspektif berbeda.

“Biasanya Batu Badar dikenal sebagai batu cincin. Tetapi dalam riset saya, saya mencoba melihat potensinya sebagai material pembuat energi,” jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, Haykal juga ingin membawa konteks Indonesia ke dalam penelitian yang dilakukan di Jepang dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal.

CLHG untuk dekarbonisasi

Risetnya tidak hanya berhenti pada material dan reaksi kimia, tetapi juga dikembangkan menuju sistem energi yang lebih luas, khususnya bagaimana teknologi CLHG dapat mendukung proses dekarbonisasi pembangkit listrik seperti PLTGU (natural gas combined cycle).

Perjalanan yang Dibentuk oleh Berbagai Kesempatan

Sebelum mencapai tahap doktoral, perjalanan akademik Haykal juga dipenuhi berbagai pengalaman yang tidak selalu direncanakan.

Ia mengaku bukan mahasiswa yang sejak awal memiliki banyak pencapaian besar. Salah satu pengalaman pentingnya bermula dari mengikuti lomba karya tulis ilmiah secara iseng.

Dari lomba tersebut, ia berhasil meraih Juara 2 Teknik Mesin ITB dan kemudian mengembangkan ide mengenai pemanfaatan langsung panas bumi untuk masyarakat hingga memperoleh Juara 3 FTMD ITB.

Ide tersebut kemudian berkembang melalui ITB International Geothermal Workshop dan menghasilkan dua publikasi terindeks Scopus.

Selain itu, sebelum memulai studi S3, Haykal juga menjalani internship di IHI Corporation Jepang pada 2023. Pengalaman tersebut memberikan perspektif baru mengenai bagaimana teknologi dikembangkan dalam industri.

Jika di dunia akademik fokus utama sering berada pada novelty, metode, dan publikasi, maka di industri terdapat pertanyaan tambahan seperti apakah teknologi tersebut aman, dapat diterapkan, dan memiliki nilai manfaat nyata.

Tantangan Menjalani Studi Doktoral di Jepang

Menurut Haykal, tantangan terbesar dalam menjalani PhD adalah menghadapi ketidakpastian.

Walaupun program doktoral memiliki jadwal yang jelas, penelitian sering kali tidak berjalan sesuai rencana. Eksperimen dapat gagal, alat mengalami kendala, atau hasil penelitian tidak sesuai ekspektasi.

“Tantangan PhD bukan hanya menyelesaikan riset, tetapi menerima bahwa banyak hal tidak berjalan sesuai rencana sementara deadline tetap berjalan,” ujarnya.

Proses pindahan dari Tokyo ke Sendai

Selain tantangan penelitian, ia juga harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan ketika berpindah dari Tokyo ke Sendai pada tahun ketiga studinya.

Namun, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar untuk lebih mandiri dan mampu mengatur produktivitas.

Belajar dari Budaya Riset Jepang

Selama berada di Jepang, salah satu hal yang paling berkesan bagi Haykal adalah budaya riset yang sangat menghargai detail. Ia mengenang prinsip yang sering ditemui dalam lingkungan akademik Jepang:

“The devil is in the details”

Hal-hal kecil seperti satu grafik, asumsi dalam simulasi, atau metode eksperimen dapat dibahas secara mendalam karena detail tersebut menentukan kualitas penelitian.

Haykal saat menjalani Internship di FREA, AIST

Selain pengalaman di The University of Tokyo, Haykal juga belajar dari lingkungan research institute seperti AIST mengenai pentingnya kolaborasi dan hubungan antara riset akademik dengan pengembangan teknologi nyata.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuka pandangan bahwa riset tidak selalu dilakukan secara individu, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai keahlian.

Pesan untuk Mahasiswa FTMD

Bagi mahasiswa FTMD yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, Haykal menyampaikan bahwa hal terpenting adalah mulai membangun rekam jejak sejak dini.

Rekam jejak tersebut tidak harus selalu berupa pencapaian besar, tetapi dapat dimulai melalui berbagai hal sederhana seperti mengikuti proyek dosen, kompetisi ilmiah, menulis paper, menjadi asisten penelitian, atau berdiskusi mengenai topik riset.

Selain itu, kemampuan bahasa Inggris juga menjadi bekal penting, bukan hanya untuk memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga untuk membaca literatur, menulis, dan mengomunikasikan ide.

Haykal juga berpesan agar mahasiswa tidak merasa harus memiliki rencana yang sempurna sejak awal.

Haykal mempresentasikan hasil riset dalam konferensi internasional di Turki.
Haykal mempresentasikan hasil riset dalam konferensi di Malaysia.
Haykal mempresentasikan hasil riset dalam konferensi di Niigata, Jepang.
Haykal mengunjungi kawasan Gunung Fuji dan Hiroshima, Jepang.

Perjalanannya sendiri berkembang dari biomassa, geotermal, amonia, hingga hidrogen dan chemical looping. Ia berpesan

“Jangan menunggu sempurna untuk memulai sesuatu. Mulai dulu, lalu sempurnakan sambil berjalan,”

Azaria Haykal Ahmad

Melalui perjalanan akademiknya, Haykal menunjukkan bahwa rasa penasaran, keberanian mencoba, dan konsistensi belajar dapat membuka jalan menuju berbagai kesempatan, termasuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi energi berkelanjutan untuk masa depan.