Dr. Muhammad Raihan Firdaus Rampungkan S3 di FTMD ITB dalam Tiga Tahun, Terbitkan 11 Publikasi
BANDUNG, ftmd.itb.ac.id – Anggapan bahwa studi doktoral (S3) di bidang teknik, khususnya di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, berat dan memakan waktu lama berhasil dipatahkan oleh Dr. Muhammad Raihan Firdaus, lulusan Program Studi Doktor Teknik Dirgantara FTMD ITB tahun 2026. Ia merampungkan studi doktoralnya hanya dalam tiga tahun dan menorehkan 11 publikasi ilmiah, termasuk pada jurnal internasional bereputasi kuartil satu (Q1) dan kuartil dua (Q2).
Keputusan Raihan melanjutkan S3 di FTMD ITB didasari kesesuaian minat risetnya di bidang mekanika komputasional untuk struktur komposit, keahlian para pembimbing, serta lingkungan akademik yang mendukung. Sebelumnya, ia merupakan mahasiswa S1 Teknik Dirgantara kelas internasional angkatan 2016 dan S2 Teknik Dirgantara angkatan 2020. Ia dibimbing tim promotor Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., Ir. Satrio Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., dan Dr. Annisa Jusuf, S.T., M.T., serta berkolaborasi dengan Dr. Vincent Tan dari National University of Singapore (NUS). Kolaborasi internasional ini membuka arah baru dalam menemukan kebaruan ilmiah disertasinya.
Menanggapi anggapan lamanya masa studi S3, Raihan menyadari sejak awal bahwa riset doktoral memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, mulai dari eksperimen berulang, perbaikan pendekatan, hingga proses publikasi yang panjang. Kendati demikian, ia menolak menjadikan pengalaman orang lain sebagai kepastian atas perjalanannya sendiri.
Sejak hari pertama, ia menjabarkan tujuan disertasi ke tahapan konkret—memahami literatur dan mengidentifikasi celah penelitian, merumuskan pertanyaan riset serta pengembangan metode, hingga mengumpulkan, menganalisis data, dan mempublikasikan temuan—lalu menurunkannya menjadi target bulanan dan mingguan.
“Setelah menjalaninya, saya melihat bahwa ada hal-hal yang bisa kita kelola: ruang lingkup penelitian, konsistensi bekerja, komunikasi dengan pembimbing, dan kecepatan merespons kendala,” ujar Raihan.
Salah satu promotor Raihan, Satrio Wicaksono, menjelaskan bahwa produktivitas publikasi dibangun dari arah penelitian yang jelas sejak hari pertama, dengan penulisan artikel ilmiah berjalan beriringan dengan pelaksanaan riset. Ia menegaskan lulus cepat tidak berarti mengorbankan kualitas riset; kedalaman riset dinilai dari ketajaman pertanyaan, ketepatan metode, kekuatan bukti, dan kejelasan kontribusi ilmiahnya, bukan semata-mata durasi studi.
“Mahasiswa tidak perlu menunggu sampai hasilnya sempurna untuk menghubungi pembimbing. Ketika ada kendala, justru penting untuk menyampaikannya sejak awal, disertai penjelasan tentang apa yang sudah dicoba dan bagian mana yang membutuhkan masukan,” tutur Satrio.
Kelancaran riset Raihan didukung infrastruktur laboratorium dan ekosistem akademik FTMD ITB, termasuk ruang kerja tetap di Laboratorium Struktur Ringan dan Ruang Data Komposit, keterlibatan mendampingi mahasiswa S1 dan S2, serta budaya saling mendukung dalam grup riset Tim Komposit FTMD bersama rekan, senior, dan peneliti seperti Dr. Ditho Pulungan. Menurut Raihan, institusi juga memitigasi risiko keterlambatan melalui layanan administrasi responsif, pemantauan progress studi tiap dua bulan, pertemuan tengah semester, seminar kemajuan akhir semester, dan program writing camp.
Kaprodi S3 FTMD ITB, Dr. Arie Wibowo, menegaskan komitmen program studi dalam mendukung kelulusan tepat waktu.
“Melalui ekosistem riset yang kolaboratif, fasilitas mumpuni, dan sistem bimbingan terstruktur, Program Studi Doktoral FTMD ITB siap menjadi rumah bagi calon peneliti dan profesional untuk menghasilkan karya berdampak tanpa harus terjebak dalam bayang-bayang lamanya masa studi,” ujarnya.
“Kita tidak harus sudah mengetahui semua jawaban sebelum memulai S3. Yang perlu dibawa adalah kemauan belajar dan komitmen untuk bekerja secara konsisten. Pengalaman saya di FTMD ITB menunjukkan bahwa S3 dapat diselesaikan tepat waktu melalui riset yang terarah, kerja yang konsisten, dan bimbingan yang mendukung,” tutup Raihan.
#SDG4 #SDG9 #SDG17