PENGHARGAAN ‘BEST PILOT’ UNTUK TIM ITB DALAM JAPAN STUDENT INDOOR AERIAL ROBOT CONTEST 2009
Tahun ini adalah untuk kelima kalinya Departemen Aeronotika dan Astronotika Universitas Tokyo bersama Japan Society of Aeronautical and Space Science (JSAS) menyelenggarakan Student Indoor Aerial Robot Contest. Salah satu tujuan diselenggarakannya kontes ini adalah untuk menumbuhkan minat dan kemampuan rekayasa dalam bidang teknologi kedirgantaraan di lingkungan Perguruan Tinggi di Jepang. Dalam kontes ini, peserta dituntut untuk mendesain, membuat dan menerbangkan pesawat terbang berukuran mini untuk sebuah misi tertentu yang sudah ditetapkan. Sejak kontes ketiga yang diselenggarakan bulan maret tahun lalu, Prof. Shinji Suzuki, Dr.Eng sebagai inisiator kontes telah mengundang beberapa tim peserta dari luar Jepang, yakni dari Korean Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) Korea, National Formosa University (NFU)Taiwan dan Institut Teknologi Bandung (ITB) Indonesia.
Misi dalam kontes tahun ini adalah menjatuhkan otedama, sebuah alat permainan khas jepang berupa katung pasir dengan berat 12-15 gram di tiga titik tertentu. Selain itu, peserta dapat melakukan serangkaian misi tambahan seperti terbang melintasi gawang, terbang loop vertikal dan terbang tanpa kendali pilot. Misi tersebut harus dapat dilaksanakan dengan berat pesawat mini tidak lebih dari 200 gram. Penilaian dilakukan berdasarkan jarak letak jatuhnya otedama dari titik sasaran dan kemampuan tim menyelesaikan misi tambahan. Keseluruhan misi harus dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 3 menit. Kesempatan terbang hanya diberikan satu kali.
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, mengirimkan satu tim dengan pesawat ‘Bul-Bul 2.0’ yang terdiri dari tiga orang mahasiswa: Feri Ametia Pratama, Hardian dan M. Luthfi Nurhakim. Tim berangkat bersama Dr. Taufiq Mulyanto sebagai dosen pembimbing. Keikutsertaan tim ITB mendapatkan dukungan dana dari kantor Wakil Rektor Kemahasiswaan dan Alumni, Fakutas Teknik Mesin dan Dirgantara, Ikatan Alumni ITB dan dari PT PLN. Pesawat ‘Bul-Bul 2.0’ adalah pengembangan dari pesawat ‘Bul-Bul’ yang memenangkan Indonesian Indoor Aerial Robot Contest tahun lalu di Bandung. Pesawat ‘Bul-Bul 2.0’ merupakan pesawat dengan konfigurasi multi-plane (bersayap banyak) dengan bahan konstruksi utama Styrofoam. Konfigurasi ini dipilih dengan tujuan untuk mendapatkan luas total bidang sayap yang besar sehingga memungkinkan pesawat terbang dengan kecepatan rendah, namun sekaligus juga mengurangi momen inersia guling pesawat sehingga pesawat tetap lincah dikendalikan. Kecepatan terbang rendah diperlukan untuk memudahkan membidik titik sasaran penjatuhan otedama, sementara kelincahan diperlukan untuk melakukan manuver loop vertikal.
Japan Student Indoor Aerial Robot Contest tahun ini diselenggarakan tanggal 19-20 September, yang bertepatan dengan hari terakhir puasa dan hari raya Idul Fitri. Meski waktu pelaksanaan yang kurang nyaman, tim tetap berangkat berlomba. Bertempat di Makahuri Messe International Convention Complex, kota Chiba, sekitar 1 jam perjalanan dari Tokyo. Kontes diselenggarakan bersamaan dengan beberapa acara lain untuk masyarakat umum seperti lomba pesawat kertas dan inisiasi teknologi untuk anak-anak. Gedung yang luas ini ini beberapa tahun lalu digunakan untuk penyelenggaraan pameran otomotif Tokyo Motor Show.
52 tim terdaftar dalam kontes tahun ini, 3 di antaranya dari luar Jepang. Di antara pesawat yang dikembangkan peserta terdapat cukup banyak desain yang unik, seperti pesawat dengan sayap cincin, pesawat dengan kemampuan power augmented lift yang merupakan pemenang di tahun-tahun lalu, pesawat dengan konfigurasi canard dan pesawat dengan sistem otomatis pengendali ketinggian terbang.
Sebelum dapat unjuk kebolehan terbang, masing-masing pesawat terlebih dahulu harus lolos validasi panitia. Di antara hal-hal yang menjadi persyaratan validasi adalah berat maksimum pesawat yang tidak boleh lebih dari 200 gram, integritas struktur pesawat, sistem pengendalian, sistem untuk menjatuhkan otedama dan aspek keselamatan penerbangan. Pesawat-pesawat tersebut umumnya dibuat menggunakan konstruksi kayu balsa yang dipotong secara akurat dengan sangat rapih. Di Universitas Tokyo, pemotongan kayu balsa dilakukan menggunakan alat laser cutter otomatis. Pisau laser pemotong akan bergerak memotong kayu balsa sesuai bentuk komponen yang diberikan pada alat melalui gambar digital. Alat dengan teknologi ini memungkinkan mendapatkan komponen yang memiliki bentuk yang kompleks secara akurat dengan cepat dan konsisten.
Program hari pertama adalah babak penyisihan untuk 27 tim pertama dan presentasi teknis poster oleh seluruh tim. Program dilanjutkan di hari kedua dengan babak penyisihan 27 tim kedua serta babak final. Tim ITB mendapatkan nomor undian 50 dan berlaga di hari kedua. Dari 52 tim, hanya 17 tim yang masuk babak final. Di antara ketujuhbelas tim tersebut, hanya tim ITB berasal dari luar Jepang.
Babak penyisihan dapat dilalui Tim ITB dengan baik, meski terjadi sedikit kesulitan. Saat penerbangan, sambungan sayap tidak sempurna sehingga pengendalian pesawat menjadi terganggu. Kondisi yang tidak terdeteksi sebelumnya ini kemungkinan terjadi akibat guncangan-guncangan selama transportasi pesawat dari Bandung ke Tokyo. Namun, bersyukur pilot dapat mengatasinya dan menyelesaikan misi dengan baik.
Peraturan dalam babak final sama dengan pada babak penyisihan. Ketujuh belas tim yang masuk babak final telah menunjukkan prestasi yang baik dengan kemampuannya menyelesaikan misi masing-masing. Memperhatikan prestasi tim-tim tersebut, nyata sekali bahwa persaingan menjadi yang terbaik adalah sangat berat. Sesuai dengan nomor peserta,Tim ITB mendapatkan urutan berlaga terakhir. Berkat perbaikan cepat yang telah dilakukan tim, penerbangan kali ini dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik dari babak sebelumnya. Kemampuan tim untuk melakukan maneuver loop vertical secara tiga kali berturut-turut sempat mendapatkan tepuk tangan penonton.
Saat pengumuman pemenang yang dibacakan dalam bahasa jepang, tim ITB meraih penghargaan ‘Best Pilot’ berkat kombinasi keistimewaan desain pesawat dengan kemampuan pengendalian pilot. Dewan juri berpendapat bahwa desain sayap Bul-Bul 2.0 dengan bentang yang pendek selayaknya memiliki tingkat kestabilan guling yang kurang baik, namun kombinasi kelincahan pesawat dan pengendalian pilot mampu mendapatkan apresiasi juri. Menurut rencana, kontes ini akan diselenggarakan lagi di tahun depan, kita semua berharap ITB dapat kembali berpartisipasi dan mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi. —
Taufiq Mulyanto, dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB