Bandung – Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) menerima kunjungan perwakilan Altara dan Aviation Australia pada Rabu (22/7/2026) untuk membahas peluang kerja sama dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan pengembangan sumber daya manusia di sektor penerbangan.

Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam menjajaki kolaborasi yang mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa sekaligus memperkuat keterkaitan antara dunia akademik dan industri penerbangan.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan FTMD ITB, yaitu Prof. Dr. Ir. Hermawan Judawisastra, M.Eng., Dr.-Ing. Ir. Javensius Sembiring, S.T., M.T., Dr. Ir. Afdhal, S.T., M.T., Ditho Ardiansyah Pulungan, S.T., M.Sc., Ph.D., serta perwakilan Altara dan Aviation Australia yang terdiri atas Arlo Erdaka (Director), Brendan Martin (Director), Harza Hanafiah (Associate), dan Carlo Sakiris (Associate).

Pada kesempatan tersebut, Altara memaparkan pengembangan ekosistem Low Altitude Economy, sebuah konsep yang berfokus pada pengembangan industri penerbangan beroperasi di wilayah udara rendah. Inisiatif ini mencakup pengembangan Technical Training Academy, Pilot Training Academy, Low Altitude Economy Center of Excellence, serta eVTOL Operations Platform. Program tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di sektor penerbangan yang diproyeksikan mencapai sekitar 258.000 personel, meliputi pilot, teknisi pesawat, hingga awak kabin.

Aviation Australia turut memperkenalkan profil institusinya sebagai penyelenggara pendidikan dan pelatihan penerbangan yang memiliki pengalaman kemitraan internasional, didukung jaringan kampus dan fasilitas pelatihan yang luas, serta berbagai akreditasi dan persetujuan dari regulator penerbangan. Pengalaman tersebut membuka peluang kolaborasi dalam penyelenggaraan pendidikan vokasional dan profesional di bidang penerbangan.

Dalam diskusi tersebut, dibahas kemungkinan penempatan mahasiswa FTMD di Aviation Australia untuk memperoleh pengalaman langsung di industri penerbangan sekaligus mengikuti program sertifikasi atau lisensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Salah satu skema yang diusulkan adalah program industrial exposure selama kurang lebih enam bulan sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman profesional sebelum memasuki dunia industri.

Selain mobilitas mahasiswa, kedua belah pihak juga membahas peluang penyelarasan kurikulum antara FTMD ITB dan Aviation Australia. Melalui pemetaan kurikulum, mata kuliah yang telah ditempuh mahasiswa di FTMD ITB berpotensi memperoleh rekognisi (credit recognition/credit transfer) dalam program sertifikasi Aviation Australia. Skema tersebut diharapkan dapat mempercepat proses perolehan lisensi profesional tanpa harus mengulang materi yang telah dipelajari, sekaligus membuka peluang melanjutkan studi ke jenjang magister. Pemanfaatan pembelajaran daring (online learning) juga menjadi salah satu alternatif yang dibahas untuk mendukung kolaborasi akademik.

Sebagai tindak lanjut, FTMD ITB dan Aviation Australia sepakat untuk mengeksplorasi lebih lanjut peluang kerja sama dalam bidang pendidikan, pelatihan, sertifikasi penerbangan, serta pengembangan pengalaman industri bagi mahasiswa.

Melalui penjajakan ini, FTMD ITB terus memperluas jejaring kemitraan internasional guna menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aplikatif bagi mahasiswa sekaligus mendukung pengembangan talenta yang siap menghadapi kebutuhan industri penerbangan global.